Bacajuga mengenai peran internet terhadap prestasi akademik siswa. Aspek Kognitif. Aspek kognitif merupakan bagian dari individu yang masuk ke dalam perkembangan kognitif, pola pikir, dan segala sesuatu yang berhubungan dengan sisi kognitif seseorang. Ternyata, internet bisa saja memberikan dampak positif terhadap aspek kognitif seseorang.
Berkaitandengan pemberitaan, aspek yang ditanggapi bisa berkenaan dengan isi beritanya itu sendiri dan kebahasaannya. Suatu tanggapan dapat berupa kritik, saran, sanggahan, dukungan, ataupun komentar-komentar lainnya. Suatu tanggapan sebaiknya disertai dengan fakta ataupun contoh-contoh dan alasan-alasan yang logis. 11.
Tanggapanatau respon terhadap suatu teks berita yang dibaca atau didengar sangat beragam. Kita dapat menanggapi isi teks berita dari aspek bahasa yang digunakan, kebenaran isi, berita atau isi informasi. Perlu diingat bahwa dalam memberikan tanggapan baik tanggapan yang positif dan negatif terhadap isi suatu berita harus disampaikan dengan santun.
Mahfudjuga mengapresiasi langkah Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo dalam kasus penembakan terhadap Brigadir J di rumah dinas Kadiv Propam nonaktif Irjen Ferdy Sambo. Mahfud menyebut Kapolri sudah memenuhi banyak permintaan publik. "Kasus itu terjadi tanggal 8, baru diumumkan tanggal 12 apa 11 tuh, Senin, tiga hari.
. Home » Buatlah Contoh Tanggapan Berkaitan Dengan Aspek Bahasa Suatu Pemberitaan
TANGGAPAN TERHADAP BERITA LELAYU MELALUI SMS Kajian Wacana dari Aspek Gramatikal, Leksikal, Konteks, dan Inferensi Sumarlam Universitas Sebelas Maret Abstract This paper analyzed 15 short texts that constitute responses to obituaries sent through short message service SMS. The obituaries were sent by the writers in Indonesian, but the responses were in Indonesian, Javanese, Arabic, and mixed language. Based on their contents, the responses were classified into seven types, namely those i expressing gratitude, ii expressing gratitude and requiring detailed information, iii expressing gratitude and asking questions, iv expressing gratitude and saying farewell, v expressing gratitude and condolences, vi expressing condolences, and vii expressing gratitude, condolences, and prayers. The grammatical devices used most dominantly in these types of obituaries were ellipsis, while references person and demonstrative, and conjunctions were rarely used. Moreover, substitution was not found in the texts. With respect to lexical devices, collocation was used very dominantly while other lexical devices such as repetition, synonym. antonym. hyponym, and equivalence were not used at all. In addition to the linguistic context, the physical, social, and epistemic contexts play a major role in making sense of obituaries found in SMS. 1 PENDAHULUAN Perkembangan teknologi informasi telah membawa dampak yang sangat luas dalam kehidupan manusia. Kehadiran alat komunikasi telepon seluler ponsel misalnya, dengan segala kelebihannya telah membuat banyak perubahan dalam masyarakat, baik berkenaan dengan perspektif bisnis, sosial, maupun bahasa. Kehadiran ponsel juga telah membawa perubahan dalam budaya komunikasi masyarakat. Dengan ponsel, komunikasi lisan jarak jauh dapat dilakukan kapan saja dan di mana saja. Budaya komunikasi lisan, karena alasan biaya, juga telah banyak digantikan dengan SMS short message service, yaitu salah satu fasilitas hand phone HP yang terkait dengan wacana kelisanan-keberaksaraan. Artinya, secara teknis SMS memang merupakan implementasi dari budaya tulis Sumarlam keberaksaraan, tetapi, secara substantif, mayoritas SMS tidak dapat dipisahkan dari dimensi dan konteks kelisanan Saputra 2004321. Demikian pula ekspresi kebahasaan yang digunakan dalam tanggapan terhadap berita kematian lelayu melalui SMS cenderung bernuansa kelisanan orality, walaupun secara de facto memang tampak sebagai pola keberaksaraan literacy. Tulisan ini mengkaji 15 teks pendek yang merupakan tanggapan terhadap berita kematian lelayu melalui SMS. Pemerolehan datanya dilakukan dengan cara pengirim pesan dalam hal ini penulis mengirimkan berita lelayu dengan menggunakan bahasa Indonesia melalui SMS kepada para penerima pesan dalam hal ini semuanya kolega penulis. Dengan cara seperti itu kemudian pengirim pesan mendapatkan tanggapan atau balasan dari penerima pesan yang juga melalui SMS. Selanjutnya, teks pada SMS balasan itu disalin/dituliskan kembali pada kertas tertentu agar mudah dibaca ulang ketika teks tersebut diperlukan untuk kepentingan penelitian. Pengumpulan data tersebut dilakukan pada waktu terjadi peristiwa kematian yang menimpa salah seorang dosen Jurusan Sastra Inggris Fakultas Sastra dan Seni Rupa Universitas Sebelas Maret Surakarta, yaitu Ibu Dra. Retno Pudyastuti, almarhumah, pada hari Senin, tanggal 19 April 2004, yang pemakamannya dilaksananakan pada hari Selasa, tanggal 20 April 2004. Teks berita lelayu yang dikirimkan oleh pengirim pesan dan 15 teks tanggapan terhadap berita lelalyu melalui SMS yang diberikan oleh si penerima pesan dapat dilihat pada lampiran. Ke-15 teks tanggapan tersebut disusun secara kronologis berdasarkan urutan waktu diterimanya tanggapan melalui SMS. Hal itu tampak pada jam dan menit ke berapa SMS tersebut masuk diterima. Teks data juga disertai nama diri dari setiap pengirim SMS. 2 BAHASA DAN ISI TEKS Deskripsi berikut memberikan gambaran mengenai bahasa yang digunakan untuk menyampaikan tanggapan terhadap berita lelayu dan klasifikasi berdasarkan isi teks. Bahasa Teks Dari 15 teks tanggapan terhadap berita lelayu yang disampaikan melalui SMS, berdasarkan bahasa yang digunakan dapat dikelompokkan menjadi empat tipe tanggapan sebagai berikut. 1 Tanggapan berbahasa Indonesia, terdiri atas 3 teks, yaitu teks nomor 3, 7, dan 10. 2 Tanggapan berbahasa Jawa, terdiri atas 6 teks, yaitu teks nomor 1, 2, 6, 9, 11, dan 12. 3 Tanggapan berbahasa Arab, terdiri atas 1 teks, yakni teks nomor 5. 4 Tanggapan berdwibahasa, terdiri atas 5 teks, yakni 2 Linguistik Indonesia, Tahun ke 24, No. 2, Agustus 2006 a Bahasa Indonesia dan bahasa Jawa, terdiri atas 2 teks nomor 4 dan 15. b Bahasa Arab dan bahasa Jawa, terdiri atas 2 teks nomor 8 dan 14. c Bahasa Arab dan Bahasa Indonesia, terdiri atas 1 teks nomor 13. Berdasarkan klasifikasi di atas tampak bahwa ternyata tanggapan terhadap berita lelayu melalui SMS, dalam kasus ini, lebih banyak menggunakan bahasa Jawa bahasa daerah dan dwibahasa bahasa campuran dibandingkan dengan bahasa Indonesia dan bahasa Arab, meskipun berita lelalyu yang disampaikan melalui SMS oleh pengirim pesan menggunakan bahasa Indonesia. Dipakainya secara dominan bahasa Jawa dan bahasa campuran pada teks tersebut karena kedua jenis bahasa itu menunjukkan adanya ragam bahasa yang dipakai dalam situasi akrab dan informal. Isi Teks Dikaji dari segi isi tanggapan terhadap berita lelayu yang disampaikan melalui SMS, dari 15 teks itu dapat diklasifikasikan menjadi tujuh macam. Ketujuh macam isi teks yang dimaksud adalah sebagai berikut. 1 Ucapan terima kasih, terdiri atas 5 teks, yaitu a Matur nuwun pak paringipun kabar Teks 1 ââ¬ËTerima kasih pak atas pemberian kabarnyaââ¬â¢ b Nggih Pak, matur nuwun Teks 6 ââ¬ËYa Pak, terima kasihââ¬â¢ c Matur nuwun pak Teks 9 ââ¬ËTerima kasih pakââ¬â¢ d Inggih, matur nuwun sampun dipunkabari Teks 11 ââ¬ËYa, terima kasih sudah dikabariââ¬â¢ e matur nuwun beritanya Teks 15 ââ¬Ëterima kasih beritanyaââ¬â¢ 2 Ucapan terima kasih dan informasi, terdiri atas 3 teks, yaitu a Terima kasih, saya mau layat sekarang dg P. Riyadi Teks 3 ââ¬ËTerima kasih, saya mau melayat sekarang dengan Pak Riyadiââ¬â¢ b Makasih, saya baru sampai kampus bar layat Teks 4 ââ¬ËTerima kasih, saya baru sampai kampus usai melayatââ¬â¢ c Ya Pak, Terima kasih, Siang tadi kami sdh ngumpul di kampus Teks 10 ââ¬ËYa Pak, terima kasih, siang tadi kami sudah berkumpul di kampusââ¬â¢ 3 Ucapan terima kasih dan pertanyaan, terdiri atas 2 teks, yaitu a Matur nuwun lelayunipun. Gerah menapa ta Pak? Teks 2 ââ¬ËTerima kasih atas berita kematiannya. Sakit apa Pak?ââ¬â¢ b Matur nuwun Mas, trs layate piye penake? pp Teks 12 ââ¬ËTerima kasih Mas, lalu bagaimana sebaiknya kita melayat? pp 3 Sumarlam 4 Ucapan terima kasih dan diakhiri dengan ucapan ââ¬Åselamat malamââ¬Â, terdiri atas 1 teks, yaitu Terimakasih pak selamat malam Teks 7 4 Linguistik Indonesia, Tahun ke 24, No. 2, Agustus 2006 5 Ucapan terima kasih dan ungkapan bela sungkawa, terdiri atas 2 teks, yaitu a Innalillahi wa ina ilaihi rojiun. maturnuwun paringipun kabar Teks 8 ââ¬ËInnalillahi wa ina ilaihi rojiun. terima kasih atas pemberian kabarnyaââ¬â¢ b Innalillahi wa ina illaihi Rojiun. Makasih informasinya Teks 13 ââ¬ËInnalillahi wa ina illaihi Rojiun. Terima kasih informasinya. 6 Ungkapan bela sungkawa, terdiri atas 1 teks, yaitu Innalillahi wainna ilaihi rajiââ¬â¢un Teks 5 7 Ucapan terima kasih, ungkapan bela sungkawa, dan doa, terdiri atas 1 teks, yaitu Matur nuwun Pak, in lil r mg2 kusn khotm AMN Teks 14 ââ¬ËTerima kasih Pak, innalillahi wainna ilaihi rajiââ¬â¢un, semoga khusnul khotimah, aminââ¬â¢ Dari klasifikasi berdasarkan keragaman isi substansi tanggapan tersebut tampak bahwa lima teks yang tergolong jenis pertama teks 1, 6, 9, 11, dan 15 semata-mata berisi ucapan terima kasih karena sudah dikabari. Alasan ââ¬Åkarena sudah diberi kabarââ¬Â itu ada yang dikemukakan secara eksplisit, seperti pada teks 1, 11, dan 15; dan ada pula yang dikemukakan secara implisit, seperti teks 6 dan 9. Berbeda dengan jenis pertama, keragaman isi jenis kedua selain berisi ucapan terima kasih karena sudah diberi kabar, juga berisi informasi sebagai tanggapan atas berita tersebut. Informasi dari penerima pesan itu menyatakan bahwa si penerima pesan ââ¬Ëakan segera melayat sekarang juga dengan salah seorang temannyaââ¬â¢ teks 3. Bahkan, ada informasi yang disampaikan oleh si penerima pesan bahwa yang bersangkutan ââ¬Ësudah tiba di kampus sesudah pulang dari melayatââ¬â¢ teks 4. Sementara itu, teks 10 menyatakan bahwa ââ¬Ësiang tadi si penerima pesan bersama kawan-kawannya sudah berkumpul di kampusââ¬â¢, artinya mereka sudah tahu sebelumnya ihwal berita lelayu yang disampaikan oleh si pengirim berita itu. Berbeda pula dengan jenis pertama dan kedua, keragaman isi jenis ketiga terletak pada adanya pertanyaan sesudah ucapan terima kasih. Pertanyaan yang diajukan si penerima pesan kepada si pengirim pesan berkisar pada masalah ââ¬Ësakit apa yang diderita oleh orang yang meninggalââ¬â¢ teks 2, dan ââ¬Ëbagaimana rencana keberangkatan ke tempat/rumah orang yang meninggalââ¬â¢ teks 12. Jenis keragaman isi yang keempat adalah selain ucapan terima kasih karena telah dikabari, si penerima pesan langsung melanjutkannya dengan ââ¬Ëucapan selamat malamââ¬â¢ teks 7. Dari teks 7 dapat ditafsirkan oleh si pengirim pesan bahwa si penerima pesan ingin mengakhiri komunikasi lewat SMS karena yang bersangkutan sudah mengetahui isi pesan dan memahami maksud si pengirim pesan. Jenis kelima, selain berisi ucapan terima kasih juga berisi ungkapan turut ââ¬Åbela sungkawaââ¬Â atas meninggalnya seorang teman kolega. Ungkapan bela sungkawa itu dinyatakan dengan bahasa Arab, yaitu ââ¬ÅInnalillahi wa inna ilaihi rajiââ¬â¢unââ¬Â teks 8 dan 13. Ungkapan tersebut sekaligus juga sebagai peringatan kepada siapa pun si 5 Sumarlam penerima pesan itu sendiri maupun si pengirim pesan, atau manusia pada umumnya bahwa ââ¬Ësesungguhnya kita manusia berasal dari Allah dan kita akan kembali kepada-Nyaââ¬â¢, sebagaimana salah seorang teman kolega yang saat itu dipanggil kembali untuk menghadap-Nya. Jenis keenam, sama seperti jenis kelima tetapi tidak disertai dengan ââ¬Ëucapan terima kasihââ¬â¢. Jadi, hanya berisi ââ¬Ëungkapan bela sungkawa dan peringatanââ¬â¢ teks 5. Jenis ketujuh merupakan tanggapan yang dilihat dari isinya paling lengkap atau paling beragam karena isinya memuat tiga hal i berisi ââ¬Ëucapan terima kasih karena telah dikabariââ¬â¢, ii ââ¬Ëungkapan bela sungkawa dan peringatanââ¬â¢, dan iii berisi doa ââ¬Ësemoga teman kita, Ibu Retno Pudyastuti yang meninggal itu tergolong khusnul khotimah meninggal yang baikââ¬â¢, dan doa itu kemudian diakhiri dengan kata ââ¬Åaminââ¬Â ââ¬Ëmudah-mudahan Allah mengabulkan permohonan kitaââ¬â¢ teks 14. 3 ASPEK GRAMATIKAL KEPADUAN TEKS DAN LEKSIKAL PENDUKUNG Pada bagian ini dideskripsikan aspek gramatikal dan leksikal melalui perantiperanti wacana yang terdapat di dalam teks yang dikaji. Pendeskripsian ini dimaksudkan untuk mengetahui peranti wacana mana yang secara dominan mendukung kepaduan/keutuhan teks dan peranti-peranti mana yang tidak terdapat di dalam teks. Aspek Gramatikal Aspek gramatikal wacana meliputi 1 pengacuan reference, 2 penyulihan substitution, 3 pelesapan ellipsis, dan 4 perangkaian conjunction Halliday dan Hasan 19766; Praptomo Baryadi 200110; Sumarlam 200523. Pengacuan Ada dua jenis referensi pengacuan yang terdapat di dalam teks tanggapan berita lelayu yang disampaikan melalui SMS, yaitu referensi pronomina persona dan referensi demonstratif. Referensi pronomina persona I tunggal bentuk bebas saya terdapat pada teks 3 dan 4, sedangkan pronomina persona I jamak bentuk bebas kami ditemukan pada teks 10. Hal itu dapat diamati pada teks data berikut. 1 Terima kasih, saya mau layat sekarang dg P. Riyadi Teks 3 2 Makasih, saya baru sampai kampus bar layat Teks 4 3 Ya Pak, Terima kasih, Siang tadi kami sdh ngumpul di kampus Teks 10 Baik pronomina persona saya pada teks 3 dan 4 maupun kami pada teks 10, pengacuannya bersifat eksoforis karena unsur yang diacu berada di luar teks, atau acuannya tidak terdapat di dalam teks. Unsur yang diacu yang berada di luar teks itu adalah si penerima pesan, yaitu Dwi Purnanto teks 3, Hesti Widyastuti teks 4, dan Warto teks 10. Masing-masing pronomina persona tersebut secara eksoforis mengacu kepada siapa, hal itu sangat mudah diketahui 6 Linguistik Indonesia, Tahun ke 24, No. 2, Agustus 2006 oleh si pengirim pesan, sebab di dalam SMS nama-nama itu muncul dan dapat dibaca, seperti tampak pada teks data yang dilampirkan. Jenis pengacuan kedua yang ditemukan di dalam teks adalah pengacuan demonstratif demonstrative reference, baik demonstratif waktu maupun tempat. Pengacuan demonstratif waktu dapat dilihat pada teks 3, 7, dan 10 berikut ini. 4 Terima kasih, saya mau layat sekarang dg P. Riyadi Teks 3 5 Terimakasih pak selamat malam Teks 7 6 Ya Pak, Terima kasih, Siang tadi kami sdh ngumpul di kampus Teks 10 Pada teks 3 terdapat pengacuan demonstratif waktu sekarang yang mengacu pada waktu kini, yaitu waktu yang berdekatan dengan waktu si penerima pesan memberikan tanggapan melalui SMS pukul 1846 kepada pengirim pesan. Teks 7 menggunakan pengacuan demonstratif waktu malam. Waktu tersebut mengacu pada waktu malam hari ketika si penerima pesan mengirimkan SMS pukul 1904 sebagai tanggapan terhadap berita lelalyu kepada si pengirim pesan. Sementara itu, pada teks 10 ditemukan pengacuan demonstratif waktu siang tadi. Waktu tersebut mengacu pada waktu lampau, sebab peristiwa ââ¬Åberkumpul di kampusââ¬Â sudah dilakukan/terjadi pada waktu siang tadi dipandang dari sudut waktu si penerima pesan mengirimkan SMS pukul 1946 sebagai tanggapan atas berita lelayu yang disampaikan oleh pengirim pesan. Pengacuan demonstratif tempat dapat diamati pada teks 4 dan 10 sebagai berikut. 7 Makasih, saya baru sampai kampus bar layat Teks 4 8 Ya Pak, Terima kasih, Siang tadi kami sdh ngumpul di kampus Teks 10 Baik pada teks 4 maupun 10 terdapat pengacuan demonstratif tempat yang mengacu pada tempat secara eksplisit, yakni kampus. Elipsis Peranti wacana pada aspek gramatikal yang berupa elipsis pelesapan sangat dominan paling banyak digunakan oleh si penerima pesan di dalam memberikan tanggapan terhadap berita lelayu melalui SMS. Dari 15 teks hanya empat teks yang tidak mengalami pelesapan, yakni teks nomor 3, 4, 5, dan 10; sedangkan 11 teks lainnya, yaitu teks nomor 1, 2, 6, 7, 8, 9, 11, 12, 13, 14, dan 15, mengalami pelesapan. Unsur yang paling banyak atau paling sering dilesapkan adalah unsur yang menduduki fungsi subjek S; dalam hal ini ditemukan sebanyak 14 kasus pelesapan. Artinya, dalam satu teks dapat terjadi dua kali dua unsur S yang dilesapkan teks nomor 2, 12, dan 14 dan ada juga dalam satu teks terjadi satu kali satu unsur pelesapan S teks nomor 1, 6, 7, 8, 9, 11, 13, dan 15. Contoh pelesapan S dapat diperhatikan pada teks data berikut. 9 a. Inggih, matur nuwun Ãâ sampun dipunkabari Teks 11 7 Sumarlam ââ¬ËYa, terima kasih Ãâ sudah dikabariââ¬â¢ b. Inggih, matur nuwun kula sampun dipunkabari ââ¬ËYa, terima kasih saya sudah dikabariââ¬â¢ 10 a. Ãâ Matur nuwun Mas, trs Ãâ layate piye penake? pp Teks 12 ââ¬ËÃâ Terima kasih Mas, lalu Ãâ bagaimana sebaiknya melayat?ââ¬â¢ pp b. Aku matur nuwun Mas, trs awake dhewe layate piye penake? pp Saya terima kasih Mas, lalu kita bagaimana sebaiknya melayat? pp ââ¬ËSaya terima kasih Mas, lalu bagaimana kita sebaiknya melayat?ââ¬â¢ pp Pada teks 11 terjadi pelesapan S kula ââ¬Ësayaââ¬â¢ satu kali data 9a. Apabila unsur S yang dilesapkan itu dimunculkan maka akan tampak seperti pada data 9b. Sementara itu, pada teks 12 data 10a terjadi pelesapan S dua kali, yaitu S tunggal aku ââ¬Ësayaââ¬â¢ pada awal klausa pertama dan S jamak awake dhewe ââ¬Ëkitaââ¬â¢ pada klausa kedua. Struktur lengkap teks 12 data 10a tersebut apabila kedua S-nya tidak dilesapkan maka akan tampak seperti pada data 10b. Pada 10b, S tunggal aku ââ¬Ësayaââ¬â¢ pada klausa pertama mengacu pada si penerima pesan Paina Partana, sedangkan S jamak awake dhewe ââ¬Ëkitaââ¬â¢ pada klausa kedua mengacu pada si penerima pesan dan si pengirim pesan Paina Partana dan Sumarlam. Suatu hal yang wajar apabila di dalam SMS, termasuk di dalamnya tanggapan terhadap berita lelayu yang disampaikan melalui SMS ini, banyak/sering terjadi pelesapan. Hal itu disebabkan oleh kenyataan bahwa ekspresi kebahasaan yang digunakan dalam tanggapan terhadap berita kematian lelayu melalui SMS cenderung bernuansa kelisanan orality, walaupun secara de facto memang tampak sebagai pola keberaksaraan literacy. Di antara ciri bahasa lisan ialah sering terjadi pelesapan unsur-unsur tertentu, di samping juga, terutama dalam SMS, sering terjadi penyingkatan. Pelesapan dan penyingkatan dalam SMS dimaksudkan agar teks atau pesan yang dikirimkan itu bentuknya singkat, isinya padat, efisien waktu, biaya, dan tenaga, namun tetap efektif dan komunikatif. Konjungsi Dari 15 teks hanya ditemukan dua jenis konjungsi, yaitu konjungsi sekuensial trs ââ¬Ëterus, laluââ¬â¢ pada teks 12, dan konjungsi optatif mg2 ââ¬Ësemogaââ¬â¢ pada teks 14, seperti tampak pada teks data berikut. 11 Matur nuwun Mas, trs layate piye penake? pp Teks 12 ââ¬ËTerima kasih Mas, lalu bagaimana sebaiknya melayat?ââ¬â¢ pp 12 Matur nuwun Pak, in lil r mg2 kusn khotm AMN Teks 14 ââ¬ËTerima kasih Pak, inna lillahi wainna ilaihi rajiun semoga khusnul khotimah, aminââ¬â¢ Konjungsi trs ââ¬Ëterus, laluââ¬â¢ pada teks 12 data 11 merupakan konjungsi sekuensial yang menyatakan hubungan makna urutan antara tuturan sebelum konjungsi dan sesudah konjungsi. Sementara itu, konjungsi mg2 ââ¬Ësemoga, 8 Linguistik Indonesia, Tahun ke 24, No. 2, Agustus 2006 mudah-mudahanââ¬â¢ pada teks 14 data 12 merupakan konjungsi optatif yang menyatakan hubungan makna harapan, yaitu harapan si penerima pesan ââ¬Ësemoga teman/kolega yang meninggal itu tergolong meninggal yang khusnul khotimahââ¬â¢. Dari teks-teks yang ditampilkan tampak bahwa di dalam teks tanggapan terhadap berita lelayu melalui SMS tidak banyak digunakan peranti wacana yang berupa konjungsi. Minimnya penggunaan konjungsi disebabkan oleh adanya kenyataan bahwa sebagian besar teks dalam SMS berupa frasa-frasa, klausa-klausa, atau kalimat-kalimat sederhana kalimat-kalimat tunggal. Perlu ditambahkan, bahwa dari 15 teks yang dikaji itu tidak ditemukan peranti wacana yang berupa substitusi penyulihan. Dengan demikian apabila diurutkan peranti wacana dari yang paling dominan paling banyak hingga yang paling sedikit digunakan atau bahkan tidak ada adalah peranti wacana yang berupa elipsis pelesapan, referensi pengacuan, konjungsi perangkaian, dan yang terakhir substitusi penggantian. Aspek Leksikal Kepaduan wacana atau teks selain didukung oleh aspek gramatikal juga didukung oleh aspek leksikal. Aspek leksikal menyatakan hubungan antarunsur dalam wacana secara semantis. Aspek leksikal dalam wacana dapat dibedakan menjadi enam macam peranti, yaitu 1 repetisi pengulangan, 2 sinonimi padan kata, 3 kolokasi sanding kata, 4 hiponimi hubungan atas-bawah, 5 antonimi lawan kata, dan 6 ekuivalensi kesepadanan atau paradigma Sumarlam 200535. Di dalam teks tanggapan terhadap berita lelayu yang disampaikan melalui SMS ternyata tidak semua peranti wacana aspek leksikal termanfaatkan oleh si penerima pesan. Apabila teks-teks itu masing-masing dilihat sebagai teks-teks yang terpisah secara otonom berdiri sendiri, tampak sekali dari enam peranti wacana tersebut hanya satu peranti yang mendukung kepaduan teks, yaitu kolokasi sanding kata, sedangkan lima peranti lainnya yaitu repetisi, sinonimi, kolokasi, ekuivalensi, antonimi, dan hiponimi tidak ditemukan pada teks yang dikaji. Kolokasi adalah asosiasi tertentu dalam menggunakan pilihan kata atau ungkapan, dan kata atau ungkapan tersebut cenderung digunakan secara berdampingan bersanding. Dalam teks yang dikaji ini terdapat beberapa kata dan ungkapan yang berkolokasi berkenaan dengan berita lelayu melalui SMS yang disampaikan oleh si pengirim pesan kepada si penerima pesan. Kata gerah ââ¬Ësakitââ¬â¢ teks 2, lelayu ââ¬Ëberita kematianââ¬â¢ teks 2, dan layat ââ¬Ëmelayat, takziahââ¬â¢ teks 3, 4, dan 12 adalah kata-kata yang berkolokasi. Pada umumnya, kematian seseorang diawali dengan ââ¬Ësakitââ¬â¢. Bila kematian menimpa seseorang, mungkin karena sakit atau sebab yang lain, maka biasanya pihak keluarga dibantu oleh para tetangga lalu menyebarkan lelayu, yaitu ââ¬Ëberita, kabar, informasi mengenai kematian seseorangââ¬â¢. Kemudian apabila berita kematian itu sampai kepada pihak-pihak yang dituju teman, kolega, saudara, 9 Sumarlam kerabat dekat atau jauh, tetangga, dan sebagainya, maka sebagian besar pihakpihak tersebut melakukan kegiatan sosial yang disebut layat ââ¬Ëmelayatââ¬â¢ atau ââ¬Ëtakziahââ¬â¢.Dengan demikian, kolokasinya terletak pada penggunaan kata gerah ââ¬Ësakitââ¬â¢, lelayu ââ¬Ëberita kematianââ¬â¢, dan layat ââ¬Ëmelayat, takziahââ¬â¢ dalam teks secara besanding. Ungkapan innalillahi wa inna ilaihi rajiââ¬â¢un, yang terdapat pada teks 5, 8, 13, dan 14, juga berkolokasi dengan ungkapan khusnul khotimah, pada teks 14. Ungkapan yang pertama adalah ungkapan yang biasa dinyatakan oleh orang Islam yang mendengar/mengetahui adanya berita duka kematian, kecelakaan, atau musibah lainnya. Ungkapan tersebut bermakna ââ¬Ësesungguhnya kita manusia berasal dari Allah dan akhirnya akan kembali kepada Allahââ¬â¢. Dengan demikian, dalam keyakinan agama tersebut, orang yang meninggal itu hakikatnya kembali kepada Sang Pencipta. Sementara itu, ungkapan yang kedua merupakan sebuah doa atau permohonan semoga orang yang meninggal tersebut tergolong meninggal yang baik atau akhir yang baik khusnul khotimah. Sebuah doa atau permohonan biasanya diakhiri dengan kata atau ungkapan amin, seperti pada teks 14, yang artinya ââ¬Ësemoga Allah mengabulkan permohonan kitaââ¬â¢. Ketiga ungkapan tersebut, innalillahi wa inna ilaihi rajiââ¬â¢un, khusnul khotimah, dan amin, merupakan ungkapan kolokatif berkaitan dengan masalah kematian. Kata-kata dan ungkapan-ungkapan yang berkolokasi tersebut mendukung kepaduan teks tanggapan berita lelayu melalui SMS. 4 KONTEKS DAN INFERENSI Konteks adalah aspek-aspek internal teks dan segala sesuatu yang secara eksternal melingkupi sebuah teks. Berdasarkan pengertian tersebut konteks secara garis besar dapat dibedakan menjadi dua macam, yaitu konteks bahasa dan konteks luar bahasa. Konteks bahasa disebut ko-teks, sedangkan konteks luar bahasa extra linguistic context disebut ââ¬Åkonteks situasiââ¬Â dan ââ¬Åkonteks budayaââ¬Â, atau ââ¬Åkonteksââ¬Â saja Malinowski dalam Halliday dan Hasan, 19928. Konteks merupakan dasar bagi inferensi. Yang dimaksud dengan inferensi di sini adalah proses yang harus dilakukan oleh komunikan pendengar/pembaca/mitra tutur untuk memahami makna yang secara harfiah tidak terdapat di dalam teks yang diungkapkan oleh komunikator pembicara/penulis/penutur. Atau dengan kata lain, inferensi adalah proses memahami makna tuturan sedemikian rupa sehingga sampai pada penyimpulan maksud dari tuturan Sumarlam, 200551. Untuk dapat mengambil inferensi dengan baik/tepat, kita harus memahami konteks dengan baik pula karena pemahaman konteks diperlukan sebagai dasar bagi pengambilan inferensi. Inferensi dapat diambil dari sebuah tuturan teks berdasarkan konteks yang menyertainya. Imam Syafiââ¬â¢i sebagaimana dikutip oleh Hamid Hasan Lubis, 199358 membedakan empat macam konteks pemakain bahasa, yaitu konteks linguistik, konteks fisik, konteks sosial, dan konteks epistemik. Konteks yang pertama konteks linguistik berkenaan dengan konteks bahasa ko-teks, sedangkan tiga konteks lainnya, konteks fisik, sosial, dan epistemik merupakan 10 Linguistik Indonesia, Tahun ke 24, No. 2, Agustus 2006 realisasi dari konteks luar bahasa segala sesuatu yang melingkupi teks, berada di luar teks, tetapi berhubungan dengan teks. Ditelaah dari segi konteks wacana, tampak bahwa konteks fisik, konteks sosial, dan konteks epistemik sangat besar peranannya untuk dapat memahami teks-teks pendek yang merupakan tanggapan terhadap berita kematian. Konteks fisik meliputi tempat terjadinya peristiwa pemakain bahasa, pokok pembicaraan dalam komunikasi, dan tindakan para partisipan komunikasi. Dalam kaitannya dengan penyampaian berita lelayu dan tanggapan terhadap berita itu, secara fisik tempat terjadinya peristiwa komunikasi berlangsung melalui SMS short message service, yakni salah satu fasilitas yang tersedia di dalam HP. Dengan demikian, komunikasi tidak terjadi secara langsung face to face, melainkan melalui sarana SMS dari tempat si pengirim pesan dalam hal ini di rumah ke tempat si penerima pesan, misalnya di kampus teks 4, atau di tempat lainnya selain teks 4. Konteks fisik yang kedua adalah pokok pembicaraan. Dalam hal ini, pokok pembicaraan yang disampaikan dalam komunikasi adalah mengenai peristiwa meninggalnya seorang teman/kolega, Ibu Retno Pudyastuti, dosen Jurusan Sastra Inggris Fakultas Sastra dan Seni Rupa Universitas Sebelas Maret Surakarta, yang menurut si pengirim berita perlu diinformasikan kepada para dosen di lingkungan fakultas tersebut. Dengan kata lain, pokok pembicaraan berkisar pada adanya berita lelayu yang disampaikan oleh si pengirim berita dan tanggapan terhadap berita itu yang disampaikan oleh si penerima pesan melalui SMS. Konteks fisik yang ketiga adalah tindakan para partisipan komunikasi pelibat wacana berkaitan dengan pokok pembicaraan komunikasi. Dalam hal ini, tindakan komunikator pengirim pesan adalah mengirimkan pesan/berita lelayu melalui SMS kepada komunikan, sedangkan tindakan komunikan penerima pesan adalah menanggapi pesan/berita tersebut dan mengirimkannya kembali kepada komunikator. Konteks fisik yang ketiga, yakni tindakan para partisipan komunikasi itu, berkaitan erat dengan konteks epistemik, yaitu latar belakang pengetahuan yang sama-sama diketahui/dimiliki oleh pelibat komunikasi. Dalam hal ini, antara si pengirim pesan dan si penerima pesan sama-sama mengetahui/ menyadari akan pentingnya berita lelayu itu. Dengan dilatarbelakangi oleh pengetahuan dan kesadaran partisipan komunikasi akan pentingnya berita lelayu tentang peristiwa meninggalnya teman sejawat maka para partisipan segera melakukan tindakan. Wujud tindakan itu dapat berupa i tindakan menanggapi berita lelayu itu dengan cara mengirimkan tanggapannya kepada si pengirim berita hal ini tampak pada 15 teks itu, ii tindakan mengucapkan bela sungkawa dan sekaligus peringatan kepada semua orang bahwa kita suatu saat juga akan dipanggil oleh Sang Pencipta teks 5, 8, 13, dan 14, iii tindakan mendoakan kepada orang yang meninggal teks 14, iv tindakan mengkonfirmasikan bagaimana sebaiknya keberangkatan takziah dari Solo ke Klaten teks 12, dan v tindakan secara spontan untuk pergi melayat beberapa saat setelah menerima berita lelayu teks 3. 11 Sumarlam Yang terakhir adalah konteks sosial. Konteks sosial ialah relasi sosial yang melengkapi hubungan antara penutur dan mitra tutur. Relasi sosial dalam konteks ini berkenaan dengan dua jenis hubungan, yaitu i hubungan antara penutur dan mitra tutur, dan ii hubungan antara penutur dan mitra tutur dengan orang yang menjadi objek tutur dalam peristiwa tutur. Hubungan jenis pertama terjadi relasi sosial antara penutur dan mitra tutur; dalam hal ini relasi antara si pengirim pesan sebagai penutur peneliti dan si penerima pesan sebagai mitra tutur 15 orang dosen yang memberikan tanggapan melalui SMS. Dalam kaitannya dengan berita lelayu, penutur pengirim pesan adalah orang yang pada umumnya mengetahui terlebih dahulu adanya peristiwa kematian, sekalipun mungkin mengetahuinya juga dari orang lain. Sementara itu, mitra tutur penerima pesan pada umumnya mengetahui peristiwa itu lebih kemudian daripada pengirim pesan sesudah diberitahu/di-SMS oleh pengirimnya. Dari 15 teks tersebut dapat diketahui, berdasarkan pemahaman terhadap konteks dan klarifikasi kepada si penerima pesan, bahwa pengirim teks nomor 3 dan 4 Dwi Purnanto dan Hesti Widyastuti, masing-masing adalah dosen Jurusan Sastra Indonesia, serta pengirim teks nomor 10 Warto, dosen Jurusan Sejarah sudah mengetahui terlebih dahulu sebelum menerima berita melalui SMS dari si pengirim pesan. Sementara itu, pengirim 12 teks lainnya ternyata baru mengetahui berita lelalyu itu sesudah yang bersangkutan menerima berita melalui SMS dari pengirim pesan. Jenis hubungan kedua adalah relasi sosial antara penutur pengirim berita dan mitra tutur penerima berita dengan orang yang menjadi objek tutur dalam peristiwa tutur. Dalam hal ini orang yang menjadi objek tutur adalah orang yang meninggal Ibu Retno Pudyastuti, sedangkan peristiwa tuturnya adalah ihwal peristiwa kematian orang yang menjadi objek tutur. Relasi sosial yang terjadi adalah relasi antara dosen-dosen Fakultas Sastra dan Seni Rupa dalam hal ini 16 orang dosen dari beberapa jurusan dengan salah seorang dosen Jurusan Sastra Inggris yang meninggal itu. Secara lebih khusus relasi sosial yang dimungkinkan terjadi adalah antarteman sejawat, antarkolega, antara dosen dan mahasiswa dan sebaliknya, dan antara dosen yang lebih tua senior dan dosen yang lebih muda yunior dan sebaliknya. Terjalinnya relasi sosial semacam itulah yang mendukung para partisipan pelibat wacana untuk mengambil peran sosial tertentu dan merealisasikannya dalam berbagai tindakan seperti telah diuraikan di atas. 5 PENUTUP Kontribusi makalah ini utamanya adalah kajian bahasa yang dipergunakan dalam pesan singkat SMS yang belum banyak diselidiki secara mendalam. Temuan yang menarik adalah adanya variasi jenis bahasa yang digunakan oleh penerima pesan ketika memberikan tanggapan tidak selalu dalam bahasa Indonesia walaupun pesan awal SMS-nya berbahasa Indonesia. Bahasa SMS yang singkat dan 'campuran' merupakan karakteristik tersendiri yang menarik 12 Linguistik Indonesia, Tahun ke 24, No. 2, Agustus 2006 dikaji dari sudut linguistik secara mikro, selain juga daTi sudut wacana dan pragrnatik. Dari sudut wacana, aspek grarnatikal yang dominan adalah elipsis, yakni pelesapan salah satu atau lebih unsur bahasa; sedangkan aspek leksikal yang mendukung keutuhan rnakna wacana adalah kolokasi, yakni kata-kata atau ungkapan tentang dan sekitar lelayu berita, tanggapan, peristiwa, dan tindakan yang berkaitan dengan kematian seseorang yang digunakan secara berdampingan. Untuk dapat memahami secara benar teks-teks pendek tanggapan terhadap berita kematian melalui SMS perlu diperhitungkan konteks luar bahasa, baik konteks fisik pelibat wacana, topik wacana, dan media wacana, konteks sosial relasi sosial antarpelibat wacana, maupun konteks epistemik latar belakang pengetahuan para pelibat Kiranya simpulan sementara tersebut pada masa yang akan datang perlu ditindaklanjuti Ãengan penelitianpenelitian sejenis yang lebih luas dan mendalam. DAFTAR PUSTAKA Brown, Gillian and George Yule. 1996. Discourse Analysis. Cambridge Cambridge University Press. Eriyanto. 2001. Analisis Wacana Pengantar Analisis Teks Media. Yogyakarta LKiS. Halliday, dan Ruqaiya Hasan. 1976. Cohesion and English. London Longman. Halliday, dan Ruqaiya Hasan. 1992. Bahasa, Konteks, dan Teks Aspek-aspek Bahasa dalam Pandangan Semiotik Sosial Terjemahan Asruddin Barori Tou. Yogyakarta Gadjah Mada University Press. Hamid Hasan Lubis, A. 1993. Analisis Wacana Pragmatik. Bandung Angkasa. Heru Saputra. 2004. ââ¬ÅDari Tuturan hingga SMS Formulaik Kelisanan di Balik Keberaksaraanââ¬Â dalam Prosiding Seminar Internasional Bahasa dan Sastra dalam Perspektif Studi Budaya, 3 ââ¬â 4 Desember 2004, di Universitas Gadjah Mada Yogyakarta. Praptomo Baryadi, I. 2001. ââ¬ÅKonsep-Konsep Pokok dalam Analisis Wacanaââ¬Â dalam Widyaparwa Nomor 57, September 2001. Jakarta Pusat Bahasa. Riyadi Santosa. 2004. ââ¬ÅPeran Leksis dalam Analisis Teksââ¬Â, dalam Linguistik Indonesia Jurnal Ilmiah Masyarakat Linguistik Indonesia. Tahun ke22, Nomor 1, Februari 2004. Jakarta MLI Bekerjasama dengan Yayasan Obor Indonesia. Sarwiji Suwandi. 2003. ââ¬ÅKohesi dalam Bahasa Indonesiaââ¬Â, dalam Linguistik Indonesia Jurnal Ilmiah Masyarakat Linguistik Indonesia. Tahun ke21, Nomor 2, Agustus 2003. Jakarta MLI Bekerjasama dengan Yayasan Obor Indonesia. 13 Sumarlam Sumarlam, Agnes Adhani, dan A. Indratmo Editor. 2004. Analisis Wacana Iklan, Lagu, Puisi, Cerpen, Novel, Drama. Bandung Pakar Raya. Sumarlam. 2005. Teori dan Praktik Analisis Wacana. Cetakan ketiga. Surakarta Pustaka Cakra. LAMPIRAN DATA A. Berita lelalyu yang dikirimkan oleh si pengirim berita melalui SMS Senin, 19-4-2004, pukul ââ¬ÅPak/Bu, Ibu Retno Pudyastuti dosen Sastra Inggris meninggal dunia. Pemakaman Selasa, 20-4-04, ñ pk. di Klatenââ¬Â Sumarlam. B. Tanggapan terhadap berita lelayu melalui SMS berupa 15 Teks yang dikaji dalam penelitian ini 1. Bambang Indianto 1841 Matur nuwun pak paringipun kabar. 2. Christiana Dwi Wardhana 1841 Matur nuwun lelayunipun. Gerah menapa ta Pak? 3. Dwi Purnanto 1846 Terima kasih, saya mau layat sekarang dg P. Riyadi. 4. Hesti Widyastuti 1853 Makasih, saya baru sampai kampus bar layat. 5. Dyah Rustanti 1857 Innalillahi wainna ilaihi rajiââ¬â¢un. 6. Sisyono Eko Widodo 1902 Nggih Pak, matur nuwun. 7. Sundari 1904 Terimakasih pak selamat malam. 8. Supardjo 1906 Innalillahi wa ina ilaihi rojiun. Maturnuwun paringipun kabar. 9. Y. Suwanto 1924 Matur nuwun pak. 10. Warto 1946 Ya Pak, Terima kasih, Siang tadi kami sdh ngumpul di kampus. 11. A. Indratmo 1957 Inggih, matur nuwun sampun dipunkabari. 12. Paina Partana 2008 Matur nuwun Mas, trs layate piye penake? pp 13. Sri Sayekti 2050 Innalillahi wa ina illaihi Rojiun. Makasih informasinya. 14. Maryono Dwiraharjo 2158 Matur nuwun Pak, in lil r mg2 kusn khotm AMN. 15. M. Sri Samiati T. 0607 matur nuwun beritanya. Catatan 1. Cetak miring tebal Bahasa Indonesia Cetak miring tidak tebal Bahasa Jawa Cetak miring bergaris bawah Bahasa Arab 2 Responden a. No. 1, 2, 3, 6, 8, 9, 10, 11, 12, 14 Berjenis kelamin laki-laki No. 4, 5, 7, 13, 15 Berjenis kelamin perempuan 14 Linguistik Indonesia, Tahun ke 24, No. 2, Agustus 2006 b. Usia rata-rata 46 tahun c. No. 1, 2, 6, 7, 9, 11, 15 Beragama Kristen/Katolik No. 3, 4, 5, 8, 10, 12, 13, 14 Beragama Islam 15
30 oleh pendengarnya. Oleh karena itu, naskah siaran harus berupa bahasa tutur atau bahasa pergaulan bukan bahasa cetak. Hal ini penting untuk lebih menambah kelancaran komunikasi antara media dan pemirsanya. Sejalan dengan pendapat-pendapat di atas, Didit 2008 memberikan penjelasan lebih lanjut tentang naskah siaran. Didit menjelaskan agar dapat dimengerti semaksimal mungkin maka naskah yang akan dibaca sebagai narasi harus dibuat sesederhana mungkin. Semakin mudah dimengerti berarti naskah semakin baik. Sebisa mungkin naskah ditulis dengan kalimat yang sederhana; tidak menggunakan istilah teknis yang rumit, atau terlalu spesifik; tidak bercampur aduk dengan kata-kata asing atau kata-kata yang kurang dikenal penonton; kalimat yang digunakan pendek, langsung kepada sasaran, tidak berbelit-belit; dan tidak menggunakan kalimat terbalik. Dari uraian di atas dapat diambil kesimpulan bahwa teks berita atau naskah berita adalah susunan wacana tertulis yang memuat informasi yang faktual dan menarik perhatian banyak orang. Teks berita yang dimaksud dalam penelitian ini adalah teks berita atau naskah berita yang disiarkan oleh media broadcast yaitu siaran radio atau siaran televisi bukan teks berita cetak yang dimuat oleh surat kabar. Perbedaan naskah berita siaran radio maupun televisi dengan naskah berita cetak terletak pada gaya bahasanya. Bahasa siaran berupa bahasa tutur bahasa lisan atau bahasa pergaulan, sedangkan bahasa media cetak berupa bahasa cetak bahasa tulis. Aspek-aspek dalam Membacakan Teks Berita 31 Membaca nyaring teks berita tidak lepas dari aspek-aspek yang mendukung dan beberapa hal yang harus diperhatikan agar dapat membacakan teks berita dengan baik. Berdasarkan berbagai sumber yang berhasil dikumpulkan peneliti yaitu buku, media net, dan wawancara dengan guru Bahasa dan Sastra SMP Negeri 1 Lasem, ada aspek-aspek yang perlu diperhatikan saat membacakan teks berita. Aspek-aspek tersebut meliputi intonasi, pelafalan, volume suara, penjedaan, ekspresi wajah, kelancaran, penampilan, dan pandangan mata. Aspek- aspek tersebut sangatlah penting dalam berbahasa lisan agar suasana lebih hidup dan komunikatif. Berikut adalah penjelasan lebih lanjut mengenai aspek-aspek tersebut 1 Intonasi Intonasi adalah lagu kalimat atau ucapan yang ditekankan pada suku kata atau kata sehingga bagian itu lebih keras tinggi ucapannya dari bagian yang lain. Intonasi dapat ditandai oleh naik-turunnya nada pada kata atau kalimat. Penandaannya dalam teks dapat menggunakan garis naik untuk nada tinggi, garis turun v untuk nada rendah, dan garis horizontal â untuk nada datar Somad, dkk 200710. 2 Pelafalan Pelafalan adalah ucapan bunyi-bunyi bahasa. Ketika membacakan teks berita, artikulasi atau pelafalan harus tepat dan jelas. Fonem-fonem yang dilafalkan harus tepat agar tidak menimbulkan salah tafsir. Fonem-fonem konsonan dan fonem-fonem vokal harus diperhatikan Somad, dkk 200710. 3 Volume suara 32 Volume suara berkaitan dengan keras dan pelannya pembacaan teks berita. Pembacaan teks berita dengan menggunakan volume suara yang jelas akan membantu pendengar untuk menangkap informasi yang disampaikan oleh pembaca atau penyiar berita. 4 Penjedaan Jeda adalah penghentian sementara dalam kalimat untuk memperjelas arti. Pemberian jeda pada teks berita dilakukan oleh pembaca berita untuk mempermudah ketika membacakan teks berita. Penandanya dapat menggunakan tanda { ; , } berhenti sebentar jeda pendek, sedangkan tanda { = . } berhenti agak lama jeda panjang Somad, dkk 200710. Perhatikan contoh berikut. 5 Ekspresi wajah Ekspresi atau mimik muka pada saat membaca teks berita dapat berbeda- beda tergantung pada konteks berita yang dibacakan. Ketika membacakan teks berita yang berisi tentang musibah atau bencana, ekspresi wajah harus menampilkan mimik prihatin dan berduka. Begitu pula ketika membacakan teks berita yang berisi kegembiraan, ekspresi wajah harus sesuai. 6 Kelancaran Lita Liviani Pemusik Cilik dengan Potensi Besar Orkes Simfoni Nasional Indonesia OSNI dalam pergelaran kali ini secara khusus menampilkan musikus cilik bernama lengkap Lita Liviani Tandiono dengan empat kemahiran memainkan instrument piano biola cello dan flute 33 Kelancaran membaca berkaitan dengan jelas tidaknya penyampaian informasi. Pembaca berita yang baik sebaiknya membacakan teks berita dengan lancar dan tidak tersendat-sendat agar makna dan isi dari berita yang dibacakan jelas dan tidak ambigu. 7 Penampilan Sikap dan penampilan haruslah dijaga dengan baik. Pada saat membacakan teks berita haruslah bersikap tenang atau tidak grogi, wajar atau tidak berlebihan, dan mantap. Apabila menyampaikan berita dengan posisi duduk hendaknya duduk tegak dengan pandangan lurus ke depan. Jika dengan posisi berdiri hendaknya juga tegak. 8 Pandangan mata Jika pembacaan berita itu dilakukan di hadapan banyak orang, harus memperhatikan tatapan mata. Sebaiknya, tatapan muka ditujukan ke semua arah agar audiens yang mendengarkan merasa diperhatikan. Apabila di depan kamera, tujukan pandangan tepat pada kamera. Pada saat membacakan teks berita usahakan jangan sering menunduk ke bawah, pandangan mata harus fokus ke depan. Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa seseorang yang membacakan teks berita untuk orang lain harus memperhatikan beberapa hal agar pendengar dapat menerima berita secara jelas dan tertarik terhadap penyampaian atau pembaca berita itu sendiri. Hal-hal yang harus diperhatikan pada saat membacakan teks berita, yaitu 1 seorang pembaca berita harus memahami isi berita secara menyeluruh. Oleh karena itu, sebelum membacakan berita, ia harus 34 membaca berita itu terlebih dulu dengan penuh konsentrasi dan berlatih membacakannya; 2 menggunakan intonasi atau memberi tekanan suara pada kata-kata yang dianggap penting dengan tepat sehingga jelas didengar; 3 melafalkan kata-kata dengan tepat dan jelas menggunakan artikulasi dengan jelas; 4 mengatur volume suara agar jelas terdengar; 5 memberikan jeda agar tidak terlalu cepat atau terlalu lambat; 6 mengatur napas dengan seimbang; 7 mengekspresikan setiap ucapan dengan tepat, seperti mimik wajah, sikapposisi badan, dan gerak agar tidak terkesan monoton dan menimbulkan makna ganda bagi penyimak; 8 membaca dengan kecepatan mata yang tinggi serta pandangan mata yang jauh sebab pembaca harus memperhatikan teks sekaligus sesekali melihat kepada pendengar. Teknik Simulasi
Tanggapan merupakan sambutan terhadap suatu ucapan atau pernyataan. Tanggapan terhadap isi berita dapat berupa kritik , saran, sanggahan, dukungan, atau komentar. Suatu tanggapan sebaiknya disertai fakta atau contoh-contoh dan alasan logis. Aspek-aspek tanggapan terhadap berita sebagai berikut. a. Isi/unsur berita, terdiri atas kebenaran dan kelengkapan isi berita. b. Bahasa berita, terdiri atas penggunaan kalimat dan pilihan kata. Perhatikan contoh tanggapan terhadap berita berikut! a. Isi berita yang saya dengarkan di televisi sangat jelas. Bahkan, lebih lengkap daripada berita yang saya dengarkan sebelumnya di radio. b. Bahasa yang digunakan pembawa berita dalam menyampaikan berita cukup jelas sehingga pendengar berita mudah untuk memahami informasi yang disampaikan pembawa berita. c. Bahasa yang digunakan dalam menulis berita tersebut kurang efektif dan berbelit-belit sehingga pembaca berita kesulitan memahami isi berita. Latihan 1 Berikanlah tanggapanmu terhadap berita berikut ini seperti contoh di atas! Ini Temuan Baru di TKP Kematian Chester Bennington Jakarta â Akhirnya keterangan resmi tentang penyebab meninggalnya pentolan Linkin Park, Chester Bennington dirilis. Kepolisian setempat di The Los Angeles County mengkonfirmasi jasad Chester menggantung di pintu kamar rumahnya. Juru bicara dari satuan Koroner di kepolisian setempat, Ed Winter mengatakan, rocker berusia 41 tahun tersebut meninggal gantung diri di pintu kamarnya. Selain mengkonfirmasi kebenaran penyebab kematian Chester, ia juga memaparkan temuannya ditempat kejadian. Menurutnya, ditemukan sebuah botol alkohol setengah kosong di dalam kamar Chester Bennington Meski demikian, pihaknya tidak menemukan obat-obatan terlarang lokasi kejadian. Chester Bennington memang dikabarkan telah sekian lama berjuang melawan kecanduannya terhadap alkohol dan obat-obatan dalam beberapa waktu semasa hidupnya. Meski demikian, pihak berwenang tidak menemukan pesan terakhir yang mungkin saja Chester tinggalkan sebelum meninggal. Lakukanlah kegiatan-kegiatan berikut! Simaklah sebuah berita televisi atau radio berkenaan dengan peristiwa alam yang sedang terjadi! Catatlah pokok-pokok informasinya! Kemudian, tulislah tanggapanmu berkenaan dengan informasi tersebut baik dari aspek isi maupun penggunaan bahasanya! Sajikan laporan kegiatanmu dalam format berikut! Nama stasiun televisi/radio Nama acara Tanggal Jam siaran Isi pokok informasi Tanggapan Selamat mengerjakan semoga sukses
aspek aspek tanggapan terhadap berita